Benarkah Pupa Semut Menghasilkan Susu?

Benarkah Pupa Semut Menghasilkan Susu?

Jakarta (Animalium.id) – Sebuah penelitian menemukan pupa semut mengeluarkan suatu cairan “susu” yang berguna bagi koloninya. Sudah lebih dari satu abad, koloni semut telah menjadi objek yang menarik bagi para peneliti dunia. Namun, penemuan “susu” pada pupa semut belum pernah peneliti ketahui sebelumnya.

Sejak lama para peneliti mempelajari kehidupan semut, namun jarang fokus pada tahapan pupa dalam siklus hidupnya. Baru-baru ini Kronauer dkk melaporkan penemuannya. Pupa semut yang sering terabaikan ternyata memberikan layanan yang penting bagi koloninya.

Tubuh semut yang sedang berkembang dalam pupa atau kepompongnya dapat membuat suatu zat seperti susu yang menyediakan nutrisi penting bagi seluruh koloninya. Penemuan ini tidak hanya terjadi pada satu spesies semut saja, tetapi juga pada spesies-spesies semut yang lainnya.

Menurut Kronauer dkk, penemuan tersebut mungkin telah umum terjadi pada semut, namun baru bagi para peneliti. Di samping itu, susu pada pupa semut mungkin saja berasal dari awal evolusi semua semut.

Penelitian Mendalam tentang Semut

Cairan bermanfaat ini pertama kali Orli Snir temukan. Ia adalah seorang peneliti yang belum pernah bekerja dengan semut sebagai objek penelitiannya. Tepatnya sebelum ia bergabung dengan lab Kronauer.

Snir memulai pengamatannya pada semut dengan cara yang tidak biasa. Awalnya hanya mencoba memahami aktivitas gabungan di dalam koloni. Awalnya larva dan pupa secara terus menerus ia rawat, pindahkan, bahkan ia tumpuk bersama. Namun rupanya ia memutuskan untuk mengamati pupa secara terpisah dari koloninya.

Snir membutuhkan waktu cukup lama untuk mencari cara agar mereka tetap hidup. Hingga akhirnya ia berhasil menemukan tingkat kelembapan dan suhu yang tepat. Kemudian, pupa tersebut mengeluarkan suatu cairan seperti susu dalam jumlah yang banyak sekali.

Faktanya, ketika hal itu terjadi banyak semut yang tenggelam di dalam cairan tersebut, setidaknya jika mereka tidak mati lebih dahulu terkena infeksi jamur. Kemudian timbullah pertanyaan apakah hal tersebut merupakan fenomena abnormal yang jarang terjadi atau sesuatu yang memang normal namun luput dari perhatian para peneliti sejak dulu sampai sekarang?

Untuk mengetahuinya, Snir menyuntikkan pewarna makanan biru ke dalam lubang tempat cairan tersebut keluar, kemudian mengembalikan pupa-pupa tersebut ke dalam koloninya.

Tak lama kemudian, terlihat semut dewasa mengeluarkan cairan dari pupa dan menelannya. Terlihat dari warna biru yang menyebar dalam ususnya. Semut-semut itu juga sering menempatkan larva muda pada pupa. Mereka juga memakan cairan tersebut, karena para larva tersebut juga membiru.

Cairan Mengandung Vitamin

Bert Hölldobler dari Universitas Arizona, seorang yang telah mempelajari semut sejak tahun 1960-an pernah menduga mungkin ada sesuatu tentang pupa yang dapat menarik semut dewasa.

Analis kimia yang meneliti cairan tersebut mengungkapkan, selain sebagai produk limbah dari proses metamorfosisnya, cairan tersebut juga mengandung semua asam amino esensial, serta banyak karbohidrat dan beberapa vitamin. Sedangkan, pada serangga lain ketika pupa mengeluarkan cairan mereka akan menyerap dan mendaur ulangnya kembali.

Pertukaran cairan bergizi antara pupa dan semut merupakan suatu proses interaksi sosial dan telah berperan dalam proses evolusi semut.

Menggali lebih dalam penelitian ini di masa depan mungkin akan menghasilkan lebih banyak penemuan. Salah satunya dari kelompok serangga yang paling banyak dipelajari namun masih sangat misterius di planet ini.

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

Sumber : Kronauer et al. 2022. The pupal moulting fluid has evolved social functions in ants. Nature Journal. Vol 612. 488-494 pp