Mimi Si Hewan Purba Jadi Lambang Cinta Sejati

Mimi Si Hewan Purba Jadi Lambang Cinta Sejati

Mimi adalah salah satu hewan invertebrata purba yang masih hidup di bumi ini. Hewan ini masih bisa kita jumpai di pesisir pantai Indonesia. Salah satunya adalah jenis Carcinoscorpius rotundicauda.

Selain Mimi, nama lain hewan ini adalah Belangkas dan nama ini umum di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Sementara itu, di Jawa sebutan individu jantan adalah Mimi dan individu betina Mintuna. Penamaan ini muncul karena hewan ini adalah monogamik. Sehingga sering menjadi simbol kelanggengan pasangan suami isteri.

Dalam peribahasa masyarakat Jawa ‘mimi-lan-mintuno’ yang berarti cinta sejati. Sedangkan orang Inggris mengenalnya sebagai horseshoe crab atau “ketam ladam” karena bentuknya yang seperti ladam kuda.

Para ahli biologi di seluruh dunia umumnya mengenal Mimi sebagai fosil hidup. Sebabnya mereka praktis tidak berubah dalam bentuk dan ukuran selama jutaan tahun. Meskipun fisiologi mereka telah berubah selama bertahun-tahun, eksoskeleton tiga bagian khas mereka tetap. Eksoskeleton tersebut terdiri dari prosoma, opisthosoma, dan telson yang tetap ada sejak era pertengahan Paleozoikum.

Berdasarkan fosil mimi yang ditemukan di Manitoba Canada, perkiraannya umur fosil mencapai 445 juta tahun yang lalu. Menariknya, bentuknya tidak berubah hingga zaman ini dan ajaibnya hewan ini bisa bertahan.

Mimi Berkerabat Dekat dengan Laba-Laba dan Kalajengking

Dalam pohon filogeni, Mimi lebih dekat kekerabatannya dengan laba-laba dan kalajengking (semuanya termasuk dalam subfilum Chelicerata) daripada kepiting. Di dunia golongan mimi hanya tersisa 4 jenis tersisa saja.

Sayangnya ekologi dan pola perkembangbiakan C. rotundicauda dan dua spesies kepiting tapal kuda Asia lainnya, yakni Tachypleus gigas dan Tachypleus tridentatus, belum didokumentasikan dengan baik. Berbeda dengan jenis Limulus polyphemus yang terdapat di Amerika Utara.

Mimi adalah pemakan bentik selektif, terutama memakan larva serangga, ikan kecil, oligochaeta, kepiting kecil, dan bivalvia bercangkang tipis. Karena tidak memiliki rahang, mimi menggiling makanan dengan bulu di kakinya dan meletakkannya di mulutnya menggunakan rahang mulut (chelicerae). Makanan yang tertelan kemudian memasuki kerongkongan yang dilapisi kutikula dan kemudian ke lambung.

Miliki Banyak Manfaat dan Hati-Hati Terhadap Racunnya

Dalam kajian biomedis dan lingkungan, ekstrak plasma darah mimi memiliki banyak manfaat. Di Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang ekstrak darah ini memiliki manfaat sebagai bahan pengujian endotoksin serta mendiagnosis penyakit meningitis dan gonore.

Warna darah belangkas adalah biru, terbentuk dari senyawa mirip hemoglobin pada manusia, yang disebut hemosianin. Oleh sebab itu Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan Asia Barat mengembangkannya sebagai serum anti-toksin.

Sebagai makanan, daging dan telur belangkas bisa dikonsumsi. Masyarakat Melayu di Kota Tinggi, Johor, mengenal masakan asam pedas dan sambal tumis belangkas. Belangkas juga mereka santap hanya dengan memanggang atau membakar saja.

Namun, belangkas menghasilkan sejenis racun yang bisa memabukkan. Hanya bagian tertentu saja boleh manusia makan. Selain itu, hanya seorang yang sudah terbiasa dan ahli saja yang mengetahui cara menyajikan makanan laut belangkas ini dengan aman.

Seperti kasus yang wanita di distrik Muang, Thailand alami tahun 2020. Setelah mengonsumsi mimi panggang, wanita ini muntah-muntah dan sakit kepala sebelum akhirnya meninggal. Menurut Kementerian Kesehatan Thailand, darah mimi ini mengandung zat kimia yang dapat menangkap bakteri dan membekukannya.

Di hutan mangrove mimi memakan plankton bakau yang sangat beracun bagi manusia. Karena beracun ini mungkin yang menyebabkan jenis ini aman dari predator dan penangkapan yang tidak bertanggung jawab.

Penulis : Ady Kristanto

Editor : Ari Rikin

Sumber :

https://kumparan.com/kumparanfood/usai-makan-kepiting-tapal-kuda-perempuan-asal-thailand-meninggal-dunia-1uLxcLPuYHp/full

Kelvin K. P. Lim; Dennis H. Murphy; T. Morgany; N. Sivasothi; Peter K. L. Ng; B. C. Soong; Hugh T. W. Tan; K. S. Tan & T. K. Tan (2001). Peter K. L. Ng & N. Sivasothi (eds.). “Mangrove horseshoe crab, Carcinoscorpius rotundicauda, family Limulidae”. A Guide to Mangroves of Singapore 1. Guide to the Mangroves of Singapore. Singapore Science Centre.

Sekiguchi, K. 1988. Ecology. In: Sekiguchi, K. (Ed). Biology of Horse-shoe Crabs. Science House Co. Ltd, Tokyo. pp. 50-68.

World Conservation Monitoring Centre (1996). “Carcinoscorpius rotundicauda”. IUCN Red List of Threatened Species. 1996.