Kepunahan Mamalia Madagaskar Di Depan Mata

Kepunahan Mamalia Madagaskar Di Depan Mata

Jakarta (Animalium.id) – Sebuah penelitian menunjukan satwa liar asli Madagaskar akan segera menghadapi gelombang kepunahannya. Sejarah evolusi yang telah terjadi selama 23 juta tahun itu kini terancam musnah.

Rupanya, perlu waktu 3 juta tahun untuk dapat memulihkan kembali spesies mamalia yang telah punah sejak manusia pertama kali menetap di Pulau Madagaskar.

Hasil penelitian yang Nature Communications terbitkan menunjukkan, gelombang kepunahan dengan dampak evolusioner yang besar akan segera terjadi di Madagaskar, kecuali tindakan konservasi segera dilakukan.

Pulau Madagaskar merupakan salah satu hotspot keanekaragaman hayati di planet ini. Hampir 90 % spesiesnya endemik, tidak dapat kita temukan di tempat lain. Mirisnya lebih dari separuh spesies mamalianya telah terancam punah. Madagaskar merupakan pulau terbesar ke empat di dunia yang ukurannya setara dengan Ukraina.

Ketua Peneliti dari Pusat Keanekaragaman Hayati Naturalis di Leiden, Belanda, dan Universitas Groningen, Dr Luis Valente mengatakan, penelitian tersebut menempatkan segala sesuatunya dalam sebuah perspektif. Menurutnya manusia akan kehilangan dan tidak dapat melihat sifat-sifat unik dari spesies yang mungkin tidak akan pernah berevolusi lagi.

Spesies Endemik di Madagaskar

Pulau Madagaskar terkenal dengan salah satu spesies endemik primata uniknya yaitu lemur ekor cincin (Lemur catta). Penghuni lainnya yaitu fossa (Cryptoprocta ferox) sejenis kucing karnivora, bunglon panther (Furcifer pardalis), serta beragam kupu-kupu unik, anggrek, pohon baobab, dan banyak spesies lainnya.

Ahli biologi dan ahli paleontologi telah mendata semua spesies yang ada di Pulau Madagaskar yang masih hidup ketika manusia tiba, dan yang hanya diketahui dari catatan fosil. Dari 249 spesies yang teridentifikasi, 30 di antaranya telah punah. Lebih dari 120 dari 219 spesies mamalia yang hidup saat ini di Madagaskar pun terancam punah.

Spesies yang punah tidak akan pernah bisa kembali lagi. Sehingga penelitian ini melihat berapa lama waktu untuk memulihkan tingkat keanekaragaman hayati yang sama melalui komunitas spesies baru dan berevolusi di pulau tersebut.

Valente juga menambahkan, banyak dari spesies saat ini bisa punah dalam 10 atau 20 tahun mendatang. Tanpa kita sadari, kita dapat dengan cepat mencapai titik di mana suatu spesies tidak dapat hidup lagi. Pesan utamanya ialah keanekaragaman hayati tidak akan pulih dengan cepat.

Ganggu Keseimbangan Ekosistem

Hilangnya mamalia akan berdampak signifikan pada spesies tumbuhan dan serangga lain yang bergantung padanya. Kemungkinan besar akan menyebabkan runtuhnya keseimbangan ekosistem secara luas.

Di samping itu, ancaman utama yang menjadi faktor pendorong kepunahan yaitu perusakan habitat karena manusia, perubahan iklim serta perburuan.

Dalam jurnal itu termuat, selama dekade terakhir, jumlah spesies mamalia yang terancam punah di Madagaskar meningkat lebih dari dua kali lipat. Sebanyak 56 spesies terancam punah pada tahun 2010 menjadi 128 spesies pada tahun 2021.

Program konservasi sangat perlu untuk menciptakan mata pencaharian bagi masyarakat lokal. Di samping itu juga menghentikan konversi hutan menjadi lahan pertanian, dan untuk membatasi eksploitasi sumber daya alam di dalamnya.

Advinder Malhi, Profesor Ilmu Ekosistem di Universitas Oxford, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan dampak yang telah manusia timbulkan terhadap keanekaragaman hayati di bumi akan berlangsung selama jutaan tahun.

Tetapi beberapa dekade mendatang sangat penting untuk menghindari kepunahan skala besar yang dapat memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas dan lebih lama.

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

Sumber : Berbagai sumber