Beruk (Macaca nemestrina) sedang memetik buah di atas pohon. Foto: Shutterstock
Animalium News

Beruk di Sumbar Piawai Panjat dan Petik Kelapa

Jakarta (Animalium.id) – Beruk (Macaca nemestrina) di Kota Pariaman, Sumatra Barat (Sumbar) punya kemahiran khusus yakni piawai memanjat dan memetik kelapa.

Keahlian ini beruk peroleh dari sekolah khusus beruk yakni Sekolah Tinggi Ilmu Beruk (STIB) di Desa Apar, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, Sumbar. Sekolah tersebut mengajarkan beruk memanjat pohon kelapa yang tinggi dan memetik buahnya.

Mengutip berbagai sumber, penggunaan beruk untuk memetik kelapa sudah tidak asing lagi bagi warga Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman.

Penamaan STIB itu sendiri berdasarkan konsep yang sekolah ajarkan pada beruk. Memanjat tempat yang tinggi di pucuk pohon kelapa. Latar belakang beruk ini “sekolah” karena banyak warga desa di wilayah itu sudah lansia dan bekerja mengolah kebun. Kehadiran beruk yang sudah STIB latih tentu sangat membantu mereka saat masa panen.

Berdirinya STIB ini adalah ide dari Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) untuk mengatasi banyaknya beruk liar yang sering mengambil buah kelapa di kebun warga. Mereka mengumpulkan beruk-beruk tersebut untuk kemudian dilatih mengenali kelapa yang sudah matang dan memetiknya.

Sistem pembelajarannya tidak main-main, saat mendirikan STIB para anggota Bumdes menyusun kurikulum khusus. Kurikulum ini sebagai pedoman pembelajaran bagi para beruk.

Aktivitas Beruk Menarik Wisatawan

Menariknya, beruk membutuhkan waktu satu tahun untuk dapat akrab dengan pemilik serta pelatihnya. Tiga bulan pertama beruk dapat pengenalan makanan khusus di STIB seperti gula aren, susu, nasi, dan sayuran. Kemudian di tiga bulan berikutnya beruk dapat pengenalan cara memetik buah kelapa secara bertahap.

Sejak berdiri tahun 2019 lalu, STIB ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata di Desa Apar, Kota Pariaman. Dari beberapa pilihan destinasi wisata di desa tersebut, STIB merupakan yang paling menarik dan banyak wisatawan kunjungi. Bahkan pada awal tahun 2020 wisatawan asal China mengunjugi STIB.

Beruk (M. nemestrina) merupakan jenis primata yang tergabung dalam famili Cercopithecidae. Dapat disebut juga southern pigtail macaque karena bentuk ekornya yang pendek dan melengkung terlihat seperti ekor babi. Primata ini tersebar di Indonesia, Malaysia, dan Thailand bagian selatan.

Rambut pada tubuhnya berwarna cokelat kekuningan saat dewasa. Terdapat beberapa corak kehitaman pada bagian bulu kepala, punggung, kaki dan pahanya. Panjang tubuhnya dapat menacapai 60 cm dengan bobot antara rata-rata 7-9 kilogram. Ukuran tubuhnya terlihat sedikit besar dari monyet ekor panjang.

Merupakan golongan primata terestrial atau yang banyak menghabiskan waktunya beraktivitas di atas tanah. Namun, mereka tetap mampu memanjat pohon dengan mahir untuk mendapatkan makanan, menghindari predator, ataupun beristirahat.

Habitatnya Semakin Terancam

Beruk menempati area hutan sungai dan rawa, lahan pertanian dan perkebunan, serta hutan sekunder. Namun, populasi beruk ditemukan dengan kepadatan tertinggi pada area hutan hujan primer dataran tinggi.

Distribusi beruk di wilayah Indonesia tersebar mulai dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Lampung, Bengkulu. Selain itu juga di Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Aceh, Jambi, hingga Pulau Bangka. Ironisnya, kini populasi beruk terus mengalami penurunan akibat dari maraknya perburuan liar. Deforestasi dan alih fungsi lahan juga menyebabkan habitatnya terus berkurang.

Hingga saat ini status konservasi beruk di Indonesia belum tercatat sebagai satwa yang dilindungi. Namun, status konservasinya menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) ialah terancam punah (endangered). Hal ini berdasarkan hasil pendataan populasi pada 13 Maret 2022.

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

Sumber : Berbagai sumber

[contact-form-7 id="49" title="Pendaftaran Event"]