Research Corner Things To Do Group Calendar Internship About Us Beli Paket Edukasi 🎟
Animalium News 15 September 2026 · Hania Chusni F

Duka di Pelupuk Mata, Belasan Bekantan Dipanggang Karhutla

Duka di Pelupuk Mata, Belasan Bekantan Dipanggang Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membawa dampak buruk bagi keanekaragaman hayati Indonesia. Setelah rentetan daftar satwa seperti orangutan, ular hingga kadal, berita menyedihkan kini datang dari bekantan (Nasalis larvatus), primata endemik Pulau Borneo yang bergantung pada hutan rawa, mangrove, dan kawasan tepian sungai. Pada September 2026, belasan bekantan ditemukan mati akibat kebakaran di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa karhutla tidak hanya mengancam manusia, tetapi juga satwa liar yang kehilangan tempat hidupnya.

Kabar Duka dari Bumi Antasari

Melalui tim ANTARA News Kalimantan Timur, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan mengonfirmasi kematian 12 ekor bekantan akibat karhutla di habitatnya di Desa Balimau. Laporan mengenai satwa terdampak diterima pada 13 September 2026 dari petugas pemadam kebakaran dan masyarakat. Berdasarkan pemeriksaan lapangan, habitat bekantan di lokasi tersebut terdiri atas dua kawasan yang terpisah oleh jalan, masing-masing sekitar 2–3 hektare. Kebakaran paling parah terjadi di lahan milik masyarakat dengan sekitar 80% kawasan terbakar. BKSDA menduga api yang besar dan angin kencang menyebabkan bekantan kesulitan menyelamatkan diri. Populasi bekantan di sekitar Balimau diperkirakan mencapai sekitar 60 individu, tetapi jumlah tersebut masih perlu diverifikasi melalui pemantauan lanjutan.

Pelajari dan Jaga Bersama

Bekantan memiliki ciri khas berupa hidung panjang dan besar pada jantan, sedangkan betina mempunyai hidung yang lebih pendek. Tubuhnya berwarna cokelat kemerahan dengan perut yang relatif buncit. Bekantan juga memiliki tangan, kaki, dan ekor panjang serta kemampuan berenang yang baik. Satwa ini umumnya hidup berkelompok di sekitar sungai dan aktif mencari makanan pada siang hari. Makanannya meliputi daun muda, pucuk, buah, dan biji.

Sebagai pemakan tumbuhan, bekantan membantu menjaga dinamika ekosistem hutan. Ketika memakan buah, biji yang tertelan dapat tersebar melalui kotorannya sehingga mendukung regenerasi tumbuhan. Bekantan juga menjadi bagian penting dari rantai makanan dan dapat berperan sebagai indikator kesehatan ekosistem lahan basah. Hilangnya bekantan dari suatu kawasan dapat menunjukkan adanya kerusakan habitat yang serius.

Status Konservasi dan Upaya Perlindungan

Menurut daftar merah IUCN, bekantan berstatus Genting (Endangered) dan populasinya terus menurun. Ancaman utamanya meliputi kehilangan habitat, alih fungsi hutan menjadi perkebunan, penebangan, perburuan, pencemaran, serta kebakaran hutan dan lahan.

Perlindungan bekantan dapat dilakukan dengan menjaga hutan mangrove dan hutan riparian, mencegah pembakaran lahan, memulihkan habitat yang rusak, membangun koridor antarkawasan hutan, serta menghentikan perburuan dan perdagangan satwa. Masyarakat juga dapat membantu dengan melaporkan perdagangan ilegal, tidak membeli satwa liar, dan mendukung program konservasi berbasis masyarakat.


Gambar: Mikhail Nilov: https://www.pexels.com/photo/a-brown-and-white-monkey-sitting-on-rock-7723949/

Sumber:

← Kembali ke Research Corner