Selamat Memperingati Hari Primata Sedunia, #KawanAnimalium! Diperingati setiap tanggal 1 September sejak 2005, Hari Primata Sedunia menjadi momen untuk mengenal lebih dekat keanekaragaman primata sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kelestariannya.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman primata tertinggi di dunia. Dari sekitar 195 spesies primata yang dikenal secara global, lebih dari 35 spesies dapat ditemukan di Indonesia, dan 24 di antaranya merupakan spesies endemik yang tidak ditemukan secara alami di tempat lain. Keragaman tersebut berkembang karena kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan, dengan hutan tropis yang terpisah-pisah selama jutaan tahun sehingga mendorong terbentuknya spesies yang unik di setiap wilayah. Namun, kekayaan tersebut menghadapi tekanan serius akibat kehilangan habitat, perburuan, perdagangan satwa, serta konflik antara manusia dan satwa liar.
Primata Indonesia dan Status Konservasinya
Beberapa primata yang dapat ditemukan di Indonesia antara lain orangutan Sumatra (Pongo abelii), orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) dan kukang Jawa (Nycticebus javanicus) yang statusnya ditetapkan terancam kritis (Critically Endangered) dengan tren populasi menurun oleh daftar merah IUCN.
Secara garis besar, ancaman utama primata Indonesia adalah hilang dan terfragmentasinya habitat. Pembukaan hutan untuk perkebunan monokultur, pertambangan, pembangunan, serta kebakaran hutan mengurangi tempat tinggal dan sumber makanan mereka. Fragmentasi juga membuat kelompok primata terisolasi sehingga pergerakan dan pertukaran gen antarpopulasi menjadi lebih sulit.
Selain kehilangan habitat, perburuan dan perdagangan satwa ilegal menjadi ancaman besar. Orangutan, misalnya, masih diburu atau ditangkap untuk dipelihara sebagai satwa peliharaan dan koleksi. Pada beberapa wilayah, konflik dengan manusia juga meningkat ketika satwa kehilangan habitat dan sumber makanan alami. Kasus orangutan di Kalimantan Barat menunjukkan bahwa kebakaran hutan dapat mendorong satwa keluar dari habitatnya atau bahkan tidak selamat samasekali di dalam wilayah bencana.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Konservasi primata tidak hanya berarti menyelamatkan satwanya, tetapi juga melindungi hutan dan melibatkan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Kita dapat membantu dengan tidak membeli atau memelihara primata sebagai satwa peliharaan, tidak mendukung perdagangan satwa liar, menjaga dan memulihkan habitat, serta melaporkan perdagangan atau kepemilikan satwa ilegal kepada pihak berwenang.
Melindungi primata berarti melindungi hutan, keanekaragaman hayati, dan masa depan ekosistem Indonesia. Mereka bukan sekadar satwa yang menarik untuk diamati, tetapi bagian penting dari ekosistem yang membantu menjaga regenerasi hutan melalui penyebaran biji dan berbagai interaksi ekologis. Yuk, jadi bagian dari kawan primata di Indonesia!
Sumber gambar: Timi Keszthelyi: https://www.pexels.com/photo/a-young-orangutan-sleeping-5329574/
Referensi:
- International Union for Conservation of Nature. (2026). The IUCN Red List of Threatened Species. https://www.iucnredlist.org
- Nater, A., Mattle-Greminger, M. P., Nurcahyo, A., Nowak, M. G., de Manuel, M., Desai, T., … Krützen, M. (2017). Morphometric, behavioral, and genomic evidence for a new orangutan species. Current Biology, 27(22), 3487–3498.e10. https://doi.org/10.1016/j.cub.2017.09.047
- Supriatna, J., & Hendras Wahyono, E. (2000). Panduan lapangan primata Indonesia. Yayasan Obor Indonesia.