Research Corner Things To Do Group Calendar Internship About Us Beli Paket Edukasi 🎟
Species Story 4 August 2026 · Hania Chusni F

Serupa Tapi Tak Sama, Inilah Tuatara yang Ternyata Bukan Kadal

Serupa Tapi Tak Sama, Inilah Tuatara yang Ternyata Bukan Kadal

Tuatara (Sphenodon punctatus) merupakan reptil endemik Selandia Baru yang sering dijuluki sebagai “fosil hidup” karena garis keturunannya telah ada sejak lebih dari 200 juta tahun lalu. Meskipun sekilas menyerupai kadal, tuatara bukan termasuk kelompok kadal (ordo Squamata), melainkan satu-satunya spesies yang masih bertahan dari ordo Rhynchocephalia. Keunikan evolusinya menjadikan tuatara sebagai spesies yang sangat penting dalam penelitian mengenai sejarah reptil dan evolusi vertebrata. Selain itu, keberadaan tuatara berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem pulau-pulau kecil di Selandia Baru sebagai predator berbagai hewan berukuran kecil.

Morfologi, Habitat, dan Persebaran

Tuatara memiliki panjang tubuh sekitar 50–70 cm dengan berat yang dapat mencapai 1 kilogram pada individu dewasa. Tubuhnya berwarna hijau zaitun hingga cokelat keabu-abuan dengan deretan duri kecil di sepanjang punggung, terutama pada jantan. Kepalanya besar dengan rahang yang kuat serta susunan gigi yang unik karena menyatu dengan tulang rahang, bukan tertanam dalam soket seperti pada kebanyakan reptil. Salah satu ciri khas tuatara adalah keberadaan baris kedua gigi (posterior additional, maxillary teeth) di bagian rahang atas yang tidak ditemui pada anggota squamata.

Spesies ini hanya ditemukan secara alami di pulau-pulau kecil di lepas pantai Selandia Baru. Tuatara menghuni habitat semak pantai, hutan pesisir, dan padang rumput dengan tanah yang memungkinkan mereka membuat liang. Berbeda dengan sebagian besar reptil, tuatara aktif pada suhu yang relatif rendah, bahkan masih dapat beraktivitas pada suhu sekitar 5–18°C. Metabolismenya yang lambat membuat spesies ini memiliki pertumbuhan yang sangat lambat dan umur yang dapat melebihi 100 tahun.

Perilaku Sosial dan Reproduksi

Tuatara umumnya bersifat soliter dan mempertahankan wilayahnya dari individu lain, terutama sesama jantan. Mereka lebih aktif pada malam hari untuk mencari mangsa berupa serangga, laba-laba, siput, cacing, kadal kecil, hingga anak burung laut. Pada siang hari, tuatara biasanya beristirahat di dalam liang yang sering kali digunakan secara bergantian dengan burung laut seperti petrel.

Musim kawin berlangsung pada akhir musim panas. Jantan akan menarik perhatian betina dengan mengangkat tubuh, menegakkan duri punggung, serta berjalan mengelilingi betina sebagai bagian dari ritual perkawinan. Setelah pembuahan, betina mengalami masa perkembangan telur yang sangat panjang. Telur baru diletakkan beberapa bulan kemudian dan membutuhkan waktu inkubasi sekitar 12–15 bulan sebelum menetas, menjadikannya salah satu periode inkubasi terlama di antara reptil. Jenis kelamin anak dipengaruhi oleh suhu inkubasi, sehingga perubahan iklim berpotensi memengaruhi keseimbangan rasio jantan dan betina di alam.

Status Konservasi

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), Sphenodon punctatus berstatus Least Concern (Risiko Rendah). Meskipun demikian, persebarannya sangat terbatas dan populasinya pernah mengalami penurunan akibat introduksi predator invasif seperti tikus, kucing, dan cerpelai. Pemerintah Selandia Baru telah melakukan berbagai upaya konservasi, termasuk eradikasi predator invasif, restorasi habitat, penangkaran, serta translokasi ke pulau-pulau yang aman. Berkat program konservasi tersebut, populasi tuatara di beberapa lokasi menunjukkan peningkatan dan menjadi salah satu contoh keberhasilan konservasi reptil endemik.


Sumber:

← Kembali ke Research Corner