Menyambut Hari Binturong, Musang Eksotis Asia!

Menyambut Hari Binturong, Musang Eksotis Asia!

Menyambut Hari Binturong Sedunia yang diperingati setiap Sabtu kedua di bulan Mei, momen ini menjadi ajakan untuk lebih mengenal sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap satwa unik asal Asia Tenggara ini. Populasi binturong terus menghadapi berbagai ancaman, mulai dari hilangnya habitat alami, konflik dengan manusia, hingga perdagangan ilegal. Padahal, sebagai penyebar biji alami di hutan tropis, binturong memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Yuk, kenali lebih dekat si “beruang kucing” yang penuh keunikan ini!

Penguasa Genus Arctictis

Masuk ke dalam kelas mamalia, beruang kucing (binturong) ternyata sama sekali tidak  berkerabat dengan beruang maupun kucing.

Dalam catatan taksonomi, satwa ini berasal dari keluarga musang dan garangan, atau  Viverridae bernama latin Arctictis binturong oleh Thomas Stamford Raffles pada tahun 1821  di Malaysia.

Binturong adalah satu-satunya hewan pada genus Arctictis. Sedangkan pada tingkatan sub spesies, peneliti menduga setidaknya terdapat sembilan jenis binturong yang tersebar di Asia. Tetapi hanya tujuh subspesies yang dapat diidentifikasi secara genetik dan morfologi.

Di Indonesia, binturong terbagi menjadi tiga jenis: Binturong Jawa, Binturong Sumatra, dan Binturong Borneo. Meskipun ketiganya memiliki tampilan fisik yang hampir sama, terdapat perbedaan pada warna rambut mereka. Binturong Jawa memiliki rambut yang dominan berwarna abu-abu, sementara Binturong Sumatera memiliki rambut yang berwarna hitam. Pada Binturong Borneo, rambut di bagian kepala berwarna abu-abu dan berangsur-angsur menjadi lebih gelap menuju ekor.

Memiliki Banyak Bakat 

Meskipun termasuk ke dalam kelompok karnivora, binturong menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menikmati buah-buahan dan membantu penyebaran biji dengan meningkatkan kemampuan germinasi biji buah melalui pencernaannya.

Apabila diperlukan, binturong dapat memangsa hewan-hewan kecil seperti tikus, burung, cacing dan serangga untuk memenuhi kebutuhan proteinnya.

Selain itu, sebagai perenang andal, pada musim panas atau suhu lingkungan cukup tinggi, binturong dapat berenang dan menyelam ke dalam air untuk mendinginkan tubuhnya dan  berburu ikan.

Sayangnya, hewan satu ini menghadapi ancaman populasi akibat hilangnya habitat binturong karena degradasi dan fragmentasi hutan akibat alih fungsi lahan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Selain itu juga karena pemanfaatan dagingnya sebagai obat tradisional, populasinya tercatat terancam. Hingga saat ini, dalam data milik International Union for Conservation of  Nature (IUCN) Red List, statusnya ditetapkan sebagai vulnerable atau rentan.


Referensi: