Yuk berkenalan denga Rhizomys sumatrensis, yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai large bamboo rat atau Indomalayan bamboo rat dan di Indonesia sering disebut tikus bambu besar. Tikus ini termasuk dalam subfamili Rhizomyinae, bagian dari kelompok rodentia yang beradaptasi dengan kehidupan semi-bawah tanah. Sebagai spesies pengerat yang khas dari daerah dengan vegetasi bambu melimpah, tikus bambu besar memainkan peran ekologis penting melalui aktivitas menggali tanah yang memengaruhi aerasi tanah serta interaksinya dengan komunitas tumbuhan di lingkungannya.
Adaptasi Tubuh Menakjubkan
Tikus bambu besar memiliki tubuh yang kuat dan berotot dengan kepala yang besar, tubuh yang padat, serta anggota badan yang pendek namun kokoh, sangat cocok untuk kehidupan fossorial (menggali tanah). Rambut tubuhnya berwarna abu-abu coklat hingga coklat gelap dengan perut yang lebih terang, dan ekor pendek.
Individu dewasa dapat mencapai panjang tubuh hampir 50 cm termasuk ekor dan berat tubuhnya dapat mencapai sekitar 4 kg. Hal ini menjadi alasan utama mengapa mereka diberi nama Tikus Bambu Besar.
Mereka dapat ditemukan wilayah Asia Tenggara, termasuk negara-negara seperti Kamboja, Cina selatan, Indonesia (Sumatra), Laos, Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Habitatnya biasanya berada di hutan bambu, hutan pegunungan, dan area agrikultur yang masih memiliki sumber vegetasi bawah tanah yang kaya, terutama bambu dan tumbuhan berakar kuat lainnya.
Lingkungan semacam ini menyediakan sumber makanan utama seperti akar bambu, pucuk bambu, serta tuber dan rimpang dari berbagai jenis tanaman. Di beberapa area, tikus bambu besar juga memakan tanaman budidaya seperti singkong dan tebu, sehingga kadang dianggap sebagai hama oleh petani.
Kehidupan Sosial dan Status Konservasi
Tikus bambu besar umumnya bersifat soliter dan teritorial, meskipun dalam beberapa kasus betina dan anakannya bisa terlihat bersama di dalam sarang bawah tanah. Aktivitas sosial mereka tidak melibatkan kelompok besar; interaksi antarindividu biasanya terjadi pada saat musim kawin atau ketika betina menjaga anaknya di sarang.
Musim kawin umumnya terjadi pada periode tertentu dalam setahun, misalnya pada bulan awal musim hujan sampai pertengahan serta periode puncak lain tergantung kondisi iklim. Setelah masa gestasi sekitar 22 hari, betina melahirkan 3–5 anak yang pada awalnya tanpa rambut dan buta. Anak-anak ini kemudian tumbuh secara bertahap dengan rambut mulai tumbuh sekitar dua minggu, membuka mata sekitar tiga minggu, dan disapih setelah beberapa bulan di dalam sarang sebelum menjadi lebih mandiri. Namun, mereka dapat mulai makan makanan padat sejak usia sekitar satu bulan dan tumbuh sampai ukuran dewasa serta mencapai kematangan seksual beberapa bulan kemudian.
Secara ekologis, tikus bambu besar juga diketahui sebagai reservoir alami bagi beberapa organisme patogen tertentu dalam siklus hidupnya. Dari segi konservasi, spesies ini diklasifikasikan sebagai Least Concern (status risiko rendah) pada IUCN Red List, mencerminkan bahwa populasi R. sumatrensis relatif stabil secara keseluruhan meskipun di beberapa wilayah lokal mungkin menghadapi tekanan dari hilangnya habitat, perburuan untuk konsumsi manusia, serta konflik dengan aktivitas pertanian.
Sumber:
- Chariyalertsak S, Vanittanakom P, Nelson KE, Sirisanthana T, Vanittanakom N. Rhizomys sumatrensis and Cannomys badius, new natural animal hosts of Penicillium marneffei. J Med Vet Mycol. 1996 Mar-Apr;34(2):105-10. PMID: 8732355.
-
Animal Diversity Web. (n.d.). Rhizomyinae (bamboo rats and mole rats). https://animaldiversity.org/accounts/Rhizomyinae/
-
Britannica Editors. (n.d.). Bamboo rat. Encyclopaedia Britannica. https://www.britannica.com/animal/bamboo-rat
-
IUCN Red List. (n.d.). Rhizomys sumatrensis: The IUCN Red List of Threatened Species. https://www.iucnredlist.org/species/19647/115152803
-
Laboratory Notes. (2025, December 5). Rhizomys sumatrensis. https://www.laboratorynotes.com/rhizomys-sumatrensis/