Semut dikenal sebagai organisme penting dalam ekosistem darat, tetapi hubungan mereka dengan burung ternyata tidak hanya sebatas sebagai mangsa. Sejak lebih dari satu abad lalu, para pengamat alam mencatat perilaku unik pada burung yang dikenal sebagai anting, yaitu tindakan burung menggosokkan semut atau zat pengganti semut ke bulu dan kulitnya. Fenomena ini tercatat pada lebih dari 200 spesies burung, terutama dari kelompok burung pengicau (Passeriformes), dan ditemukan hampir di seluruh benua kecuali Antartika.
Meskipun telah lama diketahui dan cukup sering diamati, fungsi biologis dari perilaku ini hingga kini masih belum memiliki penjelasan tunggal yang benar-benar meyakinkan. Oleh karena itu, Morozov (2015) menyusun tinjauan ilmiah menyeluruh untuk merangkum sejarah penelitian, variasi perilaku, serta berbagai hipotesis yang pernah diajukan untuk menjelaskan mengapa burung melakukan anting.
Cakupan Observasi dan Hipotesis Penelitian
Perilaku anting dilaporkan dari berbagai wilayah dunia, termasuk Eropa, Amerika, Asia, Afrika, dan Australia. Data berasal dari pengamatan di alam liar maupun dari burung yang dipelihara di penangkaran. Spesies yang paling sering tercatat melakukan anting antara lain burung gagak, jalak, robin, jay, dan grackle. Lingkungan tempat anting dilakukan sangat bervariasi, mulai dari hutan, taman kota, pekarangan rumah, hingga kandang burung di laboratorium atau rumah pribadi.
Karena anting sulit diprediksi waktunya, sebagian besar data berasal dari observasi jangka panjang dan eksperimen pada burung yang dipelihara. Peneliti mengamati postur tubuh, urutan gerakan, jenis semut yang digunakan, serta respons burung terhadap berbagai “pengganti semut” seperti serangga lain, daun, buah sitrus, bahkan benda seperti puntung rokok dan busa sabun. Berdasarkan pengamatan tersebut, perilaku anting dibagi menjadi dua tipe utama: anting aktif, ketika burung mengambil semut dengan paruh lalu menggosokkannya ke bulu, dan anting pasif, ketika burung duduk di atas sarang semut dan membiarkan semut merayap di tubuhnya.
Hipotesis awal yang paling populer menyatakan bahwa anting berfungsi untuk mengusir parasit seperti tungau dan kutu bulu, karena banyak semut mengeluarkan asam format atau zat kimia lain yang bersifat menyengat. Hipotesis lain menyebutkan bahwa anting membantu meredakan iritasi kulit saat burung mengalami pergantian bulu (molting), membantu membersihkan minyak lama pada bulu, membantu menyiapkan semut sebelum dimakan dengan cara mengurangi racun atau zat menyengat, atau bahkan berfungsi sebagai stimulasi sensorik yang memberi rasa nyaman pada burung. Namun, hingga kini belum ada satu pun hipotesis yang sepenuhnya didukung oleh bukti eksperimen kuat di semua kondisi dan spesies.
Hasil dan Diskusi
Hasil kompilasi penelitian menunjukkan bahwa burung sangat selektif terhadap jenis semut yang digunakan. Semut dari subfamili Formicinae, seperti Formica, Lasius, dan Camponotus, paling sering dipilih karena mampu menyemprotkan asam format saat terancam. Beberapa burung juga menggunakan semut dari kelompok lain yang memiliki bau menyengat atau racun pertahanan, tetapi jauh lebih jarang. Menariknya, burung juga menggunakan “pengganti semut” yang sama sekali bukan serangga, seperti kulit jeruk, daun tertentu, bahkan benda buatan manusia yang mengandung zat kimia berbau tajam. Hal ini menunjukkan bahwa zat kimia, bukan semut itu sendiri, kemungkinan menjadi pemicu utama perilaku anting.
Namun, ketika diuji secara eksperimen, efek anting terhadap jumlah parasit pada burung sering kali tidak signifikan secara statistik. Dalam salah satu eksperimen lapangan dengan burung jalak, burung yang sering melakukan anting tidak menunjukkan penurunan jumlah tungau dan kutu bulu dibandingkan burung kontrol yang tidak melakukan anting. Hal ini melemahkan hipotesis bahwa anting semata-mata berfungsi sebagai metode pembasmi parasit.
Sebaliknya, beberapa penelitian menemukan bahwa anting lebih sering terjadi pada periode kelembapan tinggi dan saat burung mengalami molting, yang mendukung hipotesis bahwa zat dari semut mungkin membantu mengurangi rasa gatal atau iritasi kulit. Selain itu, terdapat bukti bahwa sebagian burung menggosok semut terlebih dahulu sebelum memakannya, sehingga kemungkinan besar anting juga berperan dalam menurunkan kadar zat menyengat dari tubuh semut sebelum dikonsumsi. Akan tetapi, karena tidak semua anting diakhiri dengan memakan semut, fungsi ini juga tidak dapat menjelaskan seluruh fenomena.
Morozov menekankan bahwa perilaku ini tampaknya merupakan hasil dari kombinasi beberapa manfaat kecil, bukan satu fungsi tunggal yang dominan. Dengan kata lain, anting mungkin memberikan keuntungan ringan dalam berbagai konteks. Mulai dari kenyamanan kulit, pengurangan zat kimia pada mangsa, hingga kemungkinan efek terhadap mikroorganisme pada bulu, yang secara bersama-sama cukup bernilai untuk dipertahankan oleh seleksi alam.
Peluang Pendekataan Lanjutan
Meskipun telah diteliti selama lebih dari seratus tahun, perilaku anting masih menjadi salah satu misteri menarik dalam etologi burung. Tidak seperti perilaku makan atau reproduksi yang jelas manfaatnya, anting tampak sebagai perilaku kompleks yang mungkin memiliki lebih dari satu fungsi tergantung kondisi lingkungan dan fisiologi burung.
Kajian ini menunjukkan pentingnya pendekatan lintas disiplin, menggabungkan ekologi, fisiologi, kimia, dan perilaku untuk memahami interaksi unik antara burung dan semut. Di tengah meningkatnya perhatian pada perilaku alami satwa sebagai indikator kesehatan ekosistem, anting menjadi contoh bahwa bahkan kebiasaan kecil dapat menyimpan cerita besar tentang adaptasi dan evolusi.
Sumber: Morozov, N. S. (2015). Why do birds practice anting? Biology Bulletin Reviews, 5(4), 353–365. https://doi.org/10.1134/S2079086415040076
Foto: Aliaksei Semirski: https://www.pexels.com/photo/close-up-of-a-blackbird-16674428/