Kadal Dhab (Uromastyx aegyptia) adalah salah satu kadal gurun terbesar dan paling dikenal di wilayah Afrika Utara hingga Timur Tengah. Sebagai reptil herbivor yang hidup di lingkungan ekstrem, dhab memiliki adaptasi fisiologis, morfologis, dan perilaku yang luar biasa untuk bertahan di habitat kering dengan sumber air yang sangat terbatas.
Keberadaan mereka tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga memiliki nilai budaya dalam masyarakat Arab, menjadikan spesies ini menarik untuk dikaji dari berbagai aspek biologi dan konservasi. Perannya sebagai pemakan tumbuhan gurun dan penggali liang menjadikan dhab sebagai ecosystem engineer, yaitu spesies yang memberikan dampak besar pada struktur ekosistem melalui aktivitas hidupnya (Abdullah M. Nagy et al., 2022)
Morfologi Tubuh Menakjubkan
Kadal Dhab memiliki tubuh besar dengan panjang total mencapai 76–100 cm, bahkan beberapa individu tercatat melebihi ukuran tersebut. Tubuhnya kekar dan memanjang dengan ekor yang kuat, cocok untuk mempertahankan diri dari predator gurun seperti rubah, burung pemangsa, dan ular (Wilms et al., 2010). Ukuran tubuh yang besar membantu mereka menyimpan energi dan air dalam jangka panjang, sebuah adaptasi penting untuk hidup di gurun yang memiliki fluktuasi suhu ekstrem dan ketersediaan makanan musiman.
Kulit dhab tersusun dari sisik tebal berwarna cokelat gelap, abu-abu, kuning pasir, hingga krem pudar, tergantung lokasi geografis dan suhu lingkungan. Warna tubuh yang mirip pasir merupakan bentuk kamuflase untuk menghindari predator dan menyerap panas matahari secara efisien ketika berjemur (Abdullah M. Nagy et al., 2022). Sisik-sisik keras ini juga berfungsi meminimalkan kehilangan air melalui evaporasi.
Ekor merupakan ciri khas paling ikonik dari Uromastyx aegyptia, bentuknya tebal, pendek, dan terdiri dari segmen bersisik keras yang berfungsi sebagai tameng sekaligus senjata. Ketika terancam, dhab dapat mengayunkan ekornya dengan kekuatan yang cukup untuk melukai predator (Wilms et al., 2010). Struktur ekor ini juga menjadi pembeda antara Uromastyx dengan kadal gurun lainnya seperti Varanus atau Agama. Kadal Dhab memiliki kaki kuat dengan cakar kokoh yang digunakan untuk menggali liang sedalam 1–2 meter. Liang ini digunakan sebagai tempat berlindung dari panas gurun, mengatur suhu tubuh, melindungi diri dari predator, hingga menjadi tempat bertelur bagi betina (Wilms et al., 2010).
Kadal Dhab memiliki toleransi suhu yang luas, mulai dari sekitar 7°C pada musim dingin hingga lebih dari 45°C pada musim panas. Mereka melakukan basking pada pagi hari untuk menaikkan suhu tubuh, kemudian bersembunyi dalam liang saat siang hari untuk menghindari panas ekstrem. Selama musim panas, aktivitas Dhab menurun drastis karena suhu gurun yang sangat tinggi. Sebaliknya, pada musim semi dan awal musim panas, mereka lebih aktif mencari makan, kawin, dan berjemur (AlRashidi et al., 2025).
Persebaran Geografi dan Status Konservasi
Kadal Dhab tersebar di wilayah gurun Afro–Arab, termasuk Mesir, Libya, Arab Saudi, Yordania, Palestina, Kuwait, Irak, Iran barat daya. Mereka menghuni dataran berbatu, lembah kering, gurun pasir keras, hingga daerah bervegetasi jarang. Kajian pemodelan habitat menggunakan citra satelit menunjukkan bahwa habitat potensial U. aegyptia kini semakin terfragmentasi akibat pembangunan permukiman, peternakan, dan perubahan penggunaan lahan. Beberapa area persebaran yang dulunya luas kini mengalami penurunan hingga 44% dari luas habitat potensialnya (Abdullah M. Nagy et al., 2022).
Walaupun Uromastyx aegyptia dikategorikan sebagai Vulnerable (VU) oleh IUCN, penelitian menunjukkan bahwa tren populasi di alam liar cenderung menurun. Di beberapa wilayah Timur Tengah, dhab masih diburu untuk daging dan kulit, meskipun praktiknya semakin berkurang. Meningkatnya suhu gurun mengganggu pola aktivitas harian dan musiman reptil ini (AlRashidi et al., 2025).
Beberapa negara seperti Arab Saudi dan UEA telah menetapkan kawasan perlindungan yang menjadi habitat penting bagi Dhab, termasuk Mahazat as-Sayd Protected Area yang menjadi lokasi penelitian intensif (Wilms et al., 2010). Pemantauan populasi jangka panjang dan perlindungan habitat alami merupakan langkah utama untuk menjaga kelestarian spesies ini di alam liar.
Sumber:
- Abdullah M. Nagy., et al. (2022). Prioritizing and Evaluating Conservation Areas: A Case for the Threatened Ecosystem Engineer the Egyptian Dabb Lizard Uromastyx aegyptia in the Eastern Desert of Egypt. Egyptian Academic Journal of Biological Sciences B, 14(1):271–282.
- AlRashidi, M., Alatawi, A.S., Hassan, S.S.M., & Shobrak, M. (2025). Daily and Seasonal Activity Patterns of the Spiny-tailed Lizard (Uromastyx aegyptia) in Northern Saudi Arabia. Life 15(5):735.
- Wilms, T., Wagner, P., Shobrak, M., Lutzmann, N., & Böhme, W. (2010). Aspects of the Ecology of the Arabian Spiny-Tailed Lizard (Uromastyx aegyptia microlepis) at Mahazat as-Sayd Protected Area, Saudi Arabia. Salamandra 46(3):131–140.
Penulis: Roudhotun Aliyah
Foto Oleh: Hania C.