Di hutan-hutan Amerika Selatan hidup kelompok kucing kecil yang dikenal sebagai tiger cat, little spotted cat, atau tigrina. Sekilas, kucing-kucing ini terlihat sangat mirip satu sama lain karena sama-sama memiliki tubuh kecil dengan pola totol atau roset pada rambutnya. Kemiripan tersebut ternyata membuat para ilmuwan cukup kesulitan menentukan batas antarjenisnya.
Masalah tersebut menjadi semakin penting karena penentuan nama dan batas spesies bukan hanya soal klasifikasi. Jika beberapa hewan yang sebenarnya merupakan spesies berbeda dianggap sebagai satu spesies, informasi mengenai persebaran, ukuran populasi, hingga kebutuhan konservasinya juga dapat menjadi kurang tepat. Karena itu, penelitian ini mencoba melihat kembali kelompok tiger cat menggunakan pendekatan yang lebih kuat: genom secara keseluruhan, bukan hanya penampilan atau satu bagian DNA saja.
Penelitian yang dilakukan oleh Lescroart dan rekan-rekannya kemudian menghasilkan penemuan menarik. Mereka menemukan bahwa kompleks tiger cat di Amerika Selatan terdiri atas lima spesies yang berbeda, sekaligus mendeskripsikan satu spesies baru, Leopardus tilcayo, serta satu subspesies baru, Leopardus tigrinus antisuyo.
Lokasi Penemuan dan Metode Penelitian
Leopardus tilcayo ditemukan di wilayah Bolivian Yungas, kawasan hutan pegunungan di sisi timur Andes, sedangkan nama tilcayo berasal dari nama lokal yang digunakan masyarakat sekitar untuk menyebut kucing tersebut.
Peneliti menganalisis 40 data genom Leopardus, termasuk 26 sampel baru dan 12 genom yang telah tersedia sebelumnya. Sampel berasal dari berbagai wilayah Amerika Selatan, termasuk spesimen modern dan spesimen museum. DNA kemudian dianalisis menggunakan whole-genome sequencing dan berbagai analisis filogenomik untuk melihat hubungan kekerabatan antar kelompok.
Secara sederhana, penelitian ini ingin mengetahui apakah populasi tiger cat yang berbeda secara geografis juga memiliki perbedaan genetik yang cukup jelas untuk dianggap sebagai kelompok evolusioner tersendiri.
Hasil dan Diskusi
Analisis genom menunjukkan bahwa L. tilcayo membentuk kelompok genetik yang berbeda dari tiger cat lainnya. Hasil ini diperkuat oleh analisis kekerabatan yang menunjukkan beberapa kelompok tiger cat memiliki garis evolusi tersendiri.
Identifikasi L. tilcayo juga didukung oleh perbedaan morfologi. Dibandingkan L. pardinoides, spesies ini memiliki rambut yang lebih pendek, pola tubuh dengan kontras lebih rendah, roset yang lebih besar dan tidak beraturan, serta ekor yang lebih tidak lebat. Sementara dibandingkan L. tigrinus, L. tilcayo memiliki pola sisi tubuh yang lebih besar dan tidak beraturan, ekor yang lebih panjang dan penuh, serta bercak ekor yang tidak beraturan.
Perbedaan juga terlihat ketika dibandingkan dengan L. tigrinus antisuyo dari Yungas Peru. L. t. antisuyo memiliki tubuh yang lebih kokoh, ekor yang lebih tidak lebat, dan tidak memiliki cincin lengkap pada bagian ujung ekornya. Secara genetik, rata-rata terdapat sekitar 1,39 juta situs genom yang membedakan L. t. antisuyo dan L. tilcayo, sehingga perbedaannya tidak hanya terlihat dari bentuk tubuh tetapi juga pada tingkat DNA.
Menariknya, L. tilcayo diperkirakan telah berpisah dari garis keturunan L. tigrinus/pardinoides sekitar 1,4 juta tahun lalu. Perubahan iklim dan terfragmentasinya hutan pegunungan pada masa Pleistosen diduga berperan dalam proses isolasi tersebut.
Teknologi dan Peta Keanekaragaman Hayati
Penemuan Leopardus tilcayo menunjukkan bahwa masih ada spesies mamalia yang belum dikenali secara tepat bahkan dalam kelompok yang telah lama dipelajari. Kucing ini sebenarnya bukan “muncul tiba-tiba” pada tahun 2021. Eksistensinya sudah ada di hutan Yungas, tetapi identitas evolusionernya baru dapat dikenali setelah para peneliti menggabungkan data genom, morfologi, persebaran geografis, dan sejarah evolusi.
Dalam kasus L. tilcayo, beberapa bukti saling memperkuat. Secara genetik, ia membentuk kelompok yang berbeda dari tiger cat lainnya. Secara morfologi, ia memiliki kombinasi karakter pada pola roset, rambut, dan ekor yang membedakannya dari L. pardinoides, L. tigrinus, dan L. guttulus. Secara geografis, populasi yang dianalisis berasal dari Yungas Bolivia, sementara sejarah genom menunjukkan bahwa garis keturunannya telah terpisah selama lebih dari satu juta tahun.
Penelitian ini sekaligus mengingatkan bahwa kemiripan penampilan tidak selalu berarti satu spesies. Pada kelompok hewan yang memiliki banyak spesies mirip atau cryptic species, teknologi genom dapat membantu mengungkap perbedaan yang tidak terlihat hanya dengan mata. Karena itu, penemuan Leopardus tilcayo bukan sekadar penambahan satu nama baru dalam daftar satwa dunia, tetapi juga contoh bagaimana teknologi modern dapat membuka kembali “peta keanekaragaman hayati” yang selama ini belum sepenuhnya kita kenali.
Lebih jauh lagi, hasil penelitian ini memiliki arti penting bagi konservasi. Jika beberapa populasi yang sebenarnya berbeda dianggap sebagai satu spesies, maka persebaran dan kondisi masing-masing populasi dapat tertutupi oleh gambaran yang terlalu umum. Dengan mengenali unit evolusioner secara lebih tepat, peneliti memiliki dasar yang lebih baik untuk mempelajari kondisi dan kebutuhan konservasi masing-masing kelompok tiger cat
Sumber Gambar: Faciole, F. (n.d.). [Photograph of a new wild cat species]. National Geographic. https://news.nationalgeographic.org/photos-new-wild-cat-species/
Sumber Artikel: Lescroart, J., et al. (2026). Phylogenomics and museomics reveal five distinct species of tiger cats in South America. Current Biology, 36, 1–15. https://doi.org/10.1016/j.cub.2026.08.059