Research Corner Things To Do Group Calendar Internship About Us Beli Paket Edukasi 🎟
Species Story 4 September 2026 · Hania Chusni F

Telusur Jalur, Pelajari Kasuari Papua dan Perannya

Telusur Jalur, Pelajari Kasuari Papua dan Perannya

Kasuari merupakan kelompok burung besar yang tidak dapat terbang dan menjadi salah satu satwa paling khas dari hutan Papua. Di Indonesia terdapat tiga spesies kasuari, yaitu kasuari gelambir ganda (Casuarius casuarius), kasuari gelambir tunggal (Casuarius unappendiculatus), dan kasuari kerdil (Casuarius bennetti). Ketiganya memiliki peran ekologis penting sebagai penyebar biji. Bahkan, keberadaan kasuari sangat berkaitan dengan regenerasi hutan karena banyak tumbuhan hutan menghasilkan buah yang bijinya dapat disebarkan melalui kotoran kasuari.

Morfologi dan Persebaran

Kasuari memiliki tubuh besar dengan bulu hitam menyerupai rambut, leher berwarna mencolok, serta tanduk (casque) seperti helm di atas kepala. Tanduk ini tersusun dari keratin dan memiliki bentuk berbeda pada setiap spesies. Kakinya kuat dengan tiga jari dengan cakar panjang dan tajam yang digunakan untuk pertahanan.

Kasuari gelambir ganda (C. casuarius) memiliki dua gelambir merah pada leher dan menghuni hutan hujan di Papua bagian selatan. Kasuari gelambir tunggal (C. unappendiculatus) memiliki satu gelambir dan terutama ditemukan di hutan hujan Papua bagian utara. Sementara itu, kasuari kerdil (C. bennetti) berukuran lebih kecil dan diketahui menghuni kawasan pegunungan Papua.

Kasuari umumnya menempati hutan hujan yang menyediakan tutupan vegetasi rapat, air, dan buah sebagai sumber makanan. Penelitian terbaru di Taman Nasional Wasur menemukan kepadatan kasuari gelambir ganda sekitar 0,8 individu/km², dengan keberadaannya terutama berkaitan dengan hutan dataran rendah.

Perilaku Sosial dan Reproduksi

Kasuari merupakan satwa yang umumnya soliter. Individu dewasa memiliki wilayah jelajah sendiri dan biasanya hanya bertemu untuk berkembang biak. Pada musim kawin, betina dapat berpasangan dengan beberapa jantan. Setelah kawin, betina meninggalkan telur dan jantan mengambil alih seluruh tugas pengeraman serta pengasuhan anak.

Betina biasanya menghasilkan sekitar 3–5 telur berwarna hijau tua dalam satu sarang yang berada di permukaan tanah. Jantan mengerami telur dan menjaga anak-anaknya setelah menetas. Anak kasuari telah mampu berjalan tidak lama setelah menetas, tetapi tetap membutuhkan perlindungan dan bimbingan ayahnya selama berbulan-bulan.

Selain sebagai penyebar biji, kasuari memiliki perilaku makan yang menarik. Makanan utamanya berupa buah, tetapi mereka juga dapat memakan jamur, serangga, moluska, dan hewan kecil. Kemampuannya memakan dan menyebarkan biji berukuran besar membuat kasuari menjadi salah satu “petani hutan” yang membantu tumbuhan beregenerasi.

Status Konservasi

Ketiga spesies kasuari di Indonesia berstatus Least Concern (LC) menurut IUCN. Namun, status tersebut tidak berarti kasuari bebas dari ancaman. Di Indonesia, ketiganya merupakan satwa yang dilindungi. Ancaman terhadap kasuari meliputi perburuan, kehilangan dan gangguan habitat, serta perdagangan ilegal. Pembukaan hutan juga dapat mengurangi ketersediaan pakan dan memecah habitat menjadi kawasan-kawasan kecil.

Upaya konservasi dapat dilakukan melalui perlindungan hutan, pencegahan perburuan dan perdagangan ilegal, penelitian populasi, serta pelepasliaran individu hasil penyelamatan ke habitat yang sesuai. Pada 2024, BBKSDA Papua bahkan melepasliarkan tiga kasuari gelambir ganda ke Hutan Tinaruma, Papua Tengah, setelah memastikan ketersediaan habitat, pakan, dan keamanan dari gangguan manusia.


Sumber gambar: Mikhail Nilov: https://www.pexels.com/photo/close-up-shot-of-a-cassowary-7723099/

Referensi: 

← Kembali ke Research Corner