Menelisik Informasi Belangkas Raksasa, Invertebrata Purba dari Asia

Menelisik Informasi Belangkas Raksasa, Invertebrata Purba dari Asia

#KawAnimalium, pernahkah kalian mendengar tentang kepiting tapal kuda? Belangkas raksasa (Tachypleus gigas) atau yang akrab disebut kepiting tapal kuda merupakan salah satu spesies belangkas yang masih bertahan hingga saat ini dan sering dijuluki sebagai “fosil hidup” karena bentuk tubuhnya hampir tidak berubah selama ratusan juta tahun.

Belangkas memiliki peran penting dalam ekosistem pesisir sebagai pemakan organisme dasar perairan sekaligus menjadi bagian dari rantai makanan di wilayah pantai berlumpur dan berpasir. Selain itu, darah belangkas juga dikenal memiliki manfaat dalam bidang medis karena mampu mendeteksi kontaminasi bakteri tertentu. Yuk, telisik keunikannya!

Asal Muasal Kepiting Tapal Kuda

Secara morfologi, Tachypleus gigas memiliki tubuh lapisan eksoskeleton keras seperti kepiting yang berbentuk seperti tapal kuda dengan warna cokelat kehijauan hingga keabu-abuan. Tubuhnya terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu prosoma (bagian depan), opisthosoma (bagian tengah), dan telson atau ekor panjang menyerupai duri. Secara saintifik, hewan ini termasuk dalam kelompok Xiphosura dan lebih dekat kekerabatannya dengan laba-laba serta kalajengking dibandingkan kepiting sejati.

Belangkas betina umumnya berukuran lebih besar dibandingkan jantan, dengan panjang tubuh dapat mencapai sekitar 50 sentimeter. Bagian bawah tubuh memiliki beberapa pasang kaki untuk berjalan dan menggali substrat. Hewan ini juga memiliki mata majemuk yang mampu mendeteksi cahaya dalam kondisi minim pencahayaan. Cangkangnya yang keras berfungsi sebagai perlindungan dari predator serta membantu bertahan di lingkungan pesisir yang dinamis.

Dapat Ditemukan di Indonesia!

Habitat belangkas raksasa umumnya berada di perairan dangkal, estuari, hutan mangrove, hingga pantai berlumpur dan berpasir di kawasan Indo-Pasifik. Persebarannya meliputi India, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura, hingga Indonesia. Di Indonesia, spesies ini tercatat ditemukan di beberapa wilayah seperti Bintan, Demak, Madura, Balikpapan, Subang, dan Ujung Kulon. Belangkas lebih sering ditemukan di dasar perairan dengan substrat lunak yang kaya bahan organik.

Dalam perilaku sosialnya, belangkas cenderung hidup soliter, tetapi akan berkumpul pada musim reproduksi. Saat musim kawin, jantan akan menempel pada bagian belakang tubuh betina menggunakan kaki khusus berbentuk kait. Pasangan belangkas kemudian bergerak menuju pantai saat pasang tinggi untuk bertelur. Betina dapat menghasilkan ribuan telur yang ditanam di dalam pasir atau lumpur pantai. Setelah menetas, larva muda akan hidup di perairan dangkal sebelum berkembang menjadi individu dewasa. Belangkas memakan berbagai organisme kecil seperti cacing, moluska, dan hewan bentik lainnya yang ditemukan di dasar perairan.

Kerusakan Habitat Hingga Kebutuhan Medis

Meskipun telah bertahan selama jutaan tahun, populasi Tachypleus gigas kini menghadapi berbagai ancaman. Kerusakan habitat pesisir, reklamasi pantai, pencemaran, serta penangkapan berlebihan menjadi faktor utama penurunan populasinya. Selain itu, pengambilan belangkas untuk konsumsi dan kebutuhan medis juga meningkatkan tekanan terhadap spesies ini. Di Indonesia, beberapa jenis belangkas bahkan sudah masuk ke dalam daftar satwa yang dilindungi sehingga upaya konservasi habitat dan pengawasan perdagangan menjadi langkah penting untuk menjaga kelestariannya di alam.


Sumber:

  • Aini, N. K., Mashar, A., Madduppa, H. H., & Wardiatno, Y. (2020). Genetic diversity of horseshoe crabs (Carcinoscorpius rotundicauda and Tachypleus gigas) in Demak, Madura and Balikpapan waters based on Random Amplified Polymorphic DNA marker. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 10(1), 124–137. https://journal.ipb.ac.id/jpsl/article/view/30066
  • Mohd Razali, M. R., Kassim, Z., Sabuti, A. A., & Ismail, A. (2017). Feeding ecology and food preferences of Cherok Paloh, Pahang horseshoe crab, Tachypleus gigas. Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences, 13(3). https://mjfas.utm.my/index.php/mjfas/article/view/684
  • Mustopa, A. Z., Izaki, A. F., Suharsono, S., Fatimah, F., Fauziyah, F., & Damarani, R. (2023). Characterization, protein modeling, and molecular docking of factor C from Indonesian horseshoe crab (Tachypleus gigas). Journal of Genetic Engineering and Biotechnology, 21(44). https://link.springer.com/article/10.1186/s43141-023-00496-8
  • World Horseshoe Crab Conservation Network. (n.d.). Tachypleus gigas (Müller, 1785). Retrieved May 29, 2026, from https://www.horseshoecrabs.myspecies.info/limulidae/tachypleus-gigas