Bangkit dari Fosil: Kusu Kerdil Jari Panjang Tersua di Papua

Bangkit dari Fosil: Kusu Kerdil Jari Panjang Tersua di Papua

Pernahkah kamu mendengar nama Dactylonax kambuayai KawAnimalium? Spesies ini termasuk dalam kategori Lazarus taxon, yaitu hewan yang awalnya hanya diketahui dari fosil, tetapi kemudian ditemukan kembali dalam keadaan hidup. Sebelum penelitian ini dilakukan, D. kambuayai hanya dikenal dari sisa fosil berusia sekitar 6.000–7.500 tahun dari zaman Holosen dan bahkan sempat diklasifikasikan sebagai spesies punah. Namun, karena masih sedikitnya penelitian tentang mamalia di Papua Barat, para peneliti menduga bahwa spesies ini mungkin sebenarnya masih ada di alam liar. Dugaan ini akhirnya terbukti setelah ditemukan spesimen modern yang sebelumnya salah diidentifikasi sebagai spesies lain.

Keajaiban dari Hutan Papua

Penemuan spesies ini terjadi di wilayah Semenanjung Vogelkop (semenanjung besar di ujung barat laut Pulau Papua yang kini menjadi pusat Provinsi Papua Barat Daya), khususnya di hutan hujan dataran rendah hingga menengah. Beberapa lokasi penting penemuan antara lain daerah Nenei di Pegunungan Arfak, wilayah sekitar Klalik di Sorong, serta lokasi fosil awal di Kria Cave di daerah Ayamaru. Dari data yang ada, diketahui bahwa persebaran D. kambuayai sangat terbatas hanya di wilayah ini, sehingga menjadikannya salah satu mamalia dengan jangkauan habitat yang sempit di Nugini.

Penelitian ini menggunakan beberapa metode untuk memastikan identitas spesies tersebut. Para peneliti melakukan pengukuran bagian tubuh seperti tengkorak dan gigi menggunakan alat ukur presisi, lalu membandingkan hasilnya dengan fosil yang sudah ada sebelumnya. Selain itu, mereka juga mempelajari koleksi spesimen dari berbagai museum dan menambahkan data dari pengamatan langsung serta foto hewan hidup di alam. Dari metode tersebut, peneliti mengajukan beberapa hipotesis, yaitu bahwa spesimen modern yang ditemukan benar merupakan D. kambuayai, bahwa genus Dactylonax berbeda dari genus lain yang mirip, dan bahwa spesies dalam genus ini berevolusi mengikuti perbedaan ketinggian habitat (dari dataran rendah ke pegunungan).

Bangkit dari Kepunahan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesimen modern yang ditemukan memang memiliki kesamaan morfologi dengan fosil D. kambuayai, sehingga dapat dipastikan bahwa spesies ini masih hidup hingga sekarang. Hewan ini memiliki beberapa ciri khas, seperti ukuran tubuh yang paling kecil dalam kelompoknya, tidak memiliki tonjolan tulang di bagian atas tengkorak, memiliki struktur telinga tertentu yang sedikit membesar, serta jari keempat yang sangat panjang yang diduga digunakan untuk mencari larva serangga di dalam kayu. Selain itu, terdapat juga ciri unik berupa garis putih dari bagian bibir ke bawah mata.

Untuk memperkuat identifikasi, peneliti juga membandingkan D. kambuayai dengan spesies lain dalam genus yang sama. Jika dibandingkan dengan Dactylonax palpator, spesies ini memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih kecil dan memiliki telinga yang lebih panjang. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Dactylonax ernstmayri, perbedaannya terlihat pada ukuran tubuh, jumlah gigi tertentu, serta bentuk tengkorak dan jari. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa D. kambuayai memang merupakan spesies yang berbeda dan bukan hanya variasi dari spesies lain. Selain itu, perbandingan dengan genus lain seperti Dactylopsila juga menunjukkan perbedaan yang jelas, terutama pada bentuk tengkorak dan adaptasi makan, sehingga memperkuat bahwa Dactylonax adalah kelompok yang berbeda secara taksonomi.

Dalam pembahasan lebih lanjut, peneliti menjelaskan kemungkinan proses evolusi dalam genus ini. Diperkirakan bahwa nenek moyang D. kambuayai yang hidup di dataran rendah kemudian beradaptasi ke daerah pegunungan dan berkembang menjadi spesies lain seperti D. palpator. Dari sana, terjadi penyebaran lebih jauh yang menghasilkan spesies D. ernstmayri. Menariknya, hanya spesies yang hidup di pegunungan yang mampu menyebar luas, sementara spesies dataran rendah tetap terbatas di satu wilayah. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh faktor lingkungan, khususnya ketinggian tempat, dalam proses penyebaran spesies.

Dari segi ekologi, D. kambuayai diketahui aktif pada malam hari dan sering bergerak dekat permukaan tanah. Hewan ini memakan larva serangga yang hidup di dalam kayu, yang diambil menggunakan jari panjangnya. Ada juga kemungkinan bahwa spesies ini bersaing dengan hewan lain seperti sugar glider (Petaurus papuanus), sehingga keberadaannya terbatas pada wilayah tertentu yang memiliki sedikit kompetitor.

Potensi Keanekaragaman Hayati

Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa Dactylonax kambuayai masih hidup hingga sekarang, meskipun sebelumnya dianggap telah punah selama ribuan tahun. Selain itu, penelitian ini juga membantu memperjelas hubungan kekerabatan dan klasifikasi dalam genus Dactylonax. Temuan ini menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati di Papua masih banyak yang belum diketahui. Namun, karena habitatnya yang terbatas dan adanya ancaman dari aktivitas manusia seperti pembukaan hutan, spesies ini berpotensi terancam. Oleh karena itu, upaya konservasi sangat penting untuk menjaga kelangsungan hidupnya di masa depan.


Sumber: Flannery, T. F., Aplin, K. P., Bocos, C., Koungoulos, L. G., & Helgen, K. M. (2026). Found alive after 6,000 years: Modern records of an ‘extinct’ Papuan marsupial, Dactylonax kambuayai (Marsupialia: Petauridae), with a revision of the systematics and zoogeography of the genus Dactylonax. Records of the Australian Museum, 78(1), 17–34. https://doi.org/10.3853/j.2201-4349.78.2026.3003