Selama lebih dari dua dekade, Moema claudiae dianggap telah lenyap dari alam. Spesies ini hidup di kolam-kolam musiman yang muncul hanya selama musim hujan, tempat yang sangat rapuh dan mudah hilang akibat perubahan bentang alam. Bolivia sendiri memiliki lebih dari tiga puluh spesies killifish musiman, dan lebih dari separuhnya bersifat endemik.
Dari semua itu, Moema claudiae adalah satu-satunya yang dikategorikan sebagai “Critically Endangered and possibly extinct” oleh IUCN, terutama karena keberadaannya tidak pernah tercatat kembali sejak pengambilan sampel pertama lebih dari 20 tahun yang lalu. Habitat aslinya telah dihancurkan dan berubah menjadi desa serta area pertanian intensif, sehingga banyak peneliti meyakini bahwa spesies ini benar-benar telah hilang dari alam.
Upaya Penyisiran Lokasi yang Tersisa
Dalam upaya menjawab apakah spesies ini masih bertahan, para peneliti melakukan survei di wilayah yang secara geografis berdekatan dengan lokasi habitat asli. Pencarian ini akhirnya mengarah pada penemuan mengejutkan: sebuah kolam musiman berair hitam, dangkal, dan tersembunyi di tengah sisa-sisa petak hutan di dataran rendah Bolivia. Tidak ada tanaman air yang tumbuh di dalamnya; hanya rumput-rumput jarang yang menghiasi tepian. Meski tampak sederhana, kolam ini ternyata menjadi tempat perlindungan terakhir bagi Moema claudiae.
Pengambilan sampel dilakukan menggunakan jaring tangan, dan beberapa individu kemudian difoto dalam kondisi hidup menggunakan pencahayaan khusus tanpa manipulasi digital. Identifikasi spesies dilakukan dengan mencocokkan seluruh karakter morfologi dan pola warna berdasarkan deskripsi asli Costa (2003).
Bangkit dari Kepunahan
Hasilnya menakjubkan, ikan yang tertangkap benar-benar Moema claudiae, ditunjukkan terutama oleh ciri khas berupa bercak hitam besar berbentuk oval vertikal pada bagian bahu jantan. Ciri ini sangat penting, karena spesies lain dalam kelompok warna yang sama hanya memiliki bercak yang jauh lebih kecil atau bahkan tidak ada sama sekali. Penelitian ini sekaligus menghasilkan foto hidup pertama yang pernah dipublikasikan untuk spesies tersebut.
Lebih mengejutkan lagi, kolam kecil ini ternyata dihuni oleh enam spesies killifish lainnya, sehingga total terdapat tujuh spesies rivulid yang hidup berdampingan dalam satu lokasi. Angka ini merupakan rekor tertinggi yang pernah tercatat untuk biotope killifish musiman, yang pada umumnya hanya dapat mendukung hingga lima spesies. Keanekaragaman yang luar biasa ini diduga muncul karena lokasi tersebut berada pada pertemuan dua sub-DAS besar, sehingga berbagai faktor ekologis dan hidrologis saling berinteraksi dan menciptakan kondisi yang memungkinkan tingginya keragaman spesies.
Harapan dan Tantangan Konservasi
Namun, penemuan yang menggembirakan ini juga disertai kenyataan yang mengkhawatirkan. Sejak tahun 2001 hingga 2024, Bolivia telah kehilangan hampir sepuluh juta hektare tutupan pohon, sebagian besar berupa hutan primer yang sangat penting bagi keanekaragaman hayati.
Wilayah tempat Moema claudiae ditemukan kembali juga berada di tengah laju deforestasi yang meningkat cepat akibat ekspansi agroindustri. Perubahan sistem hidrologi, pencemaran pestisida, dan fragmentasi hutan terus menggerus habitat kritis bagi killifish yang hanya dapat hidup di kolam-kolam musiman tertentu. Jika lokasi ini tidak segera dilindungi, satu-satunya populasi hidup Moema claudiae yang diketahui saat ini dapat hilang selamanya.
Penemuan kembali spesies ini memberikan harapan besar bagi dunia konservasi. Ia bukan hanya bukti bahwa kehidupan masih mampu bertahan di tempat-tempat yang tampak tidak mungkin, tetapi juga menjadi pengingat bahwa habitat kecil sekalipun menyimpan nilai ekologis yang luar biasa. Kolam musiman yang sederhana ini adalah rumah terakhir Moema claudiae dan pusat keanekaragaman killifish yang belum pernah ditemukan di tempat lain di Amerika Selatan. Karena itu, upaya perlindungan lokasi ini menjadi sangat mendesak, agar spesies yang pernah dianggap punah ini benar-benar mendapat kesempatan kedua untuk bertahan dan dipelajari lebih jauh.
Sumber:
Drawert, H. A., & Litz, T. O. (2025). Rediscovery of a thought to be extinct beauty: a second chance for conservation. Nature Conservation, 60, 115–124. https://doi.org/10.3897/natureconservation.60.160386