Genus Scincella merupakan kelompok kadal kecil dari famili Scincidae yang tersebar luas di Amerika Utara hingga Asia Tenggara. Meski bentuk tubuhnya tampak sederhana, kelompok ini menyimpan keragaman genetik yang tinggi, membuat identifikasi spesies sering kali sulit dilakukan. Dalam dua dekade terakhir, kemajuan teknik taksonomi integratif (penggabungan data morfologi dan genetik) telah mengungkap lebih dari selusin spesies baru di Asia, menandakan bahwa keanekaragaman genus ini sebelumnya sangat diremehkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Xu et al. (2025) muncul dari kebutuhan untuk meninjau ulang populasi Scincella di Cina Barat Daya, terutama di Provinsi Guizhou. Di wilayah ini, para peneliti menemukan populasi kadal kecil dengan pola warna dan bentuk tubuh yang berbeda dari spesies lain yang telah dikenal. Dugaan awal mereka: populasi ini merupakan spesies baru yang belum pernah dideskripsikan secara ilmiah.
Ditemukan pada Habitat dengan Vegetasi Rapat dan Suhu Rendah
Penemuan Scincella tenuistriata sp. nov. berasal dari Distrik Qixingguan, Kota Bijie, Provinsi Guizhou, di wilayah barat daya Tiongkok, pada ketinggian sekitar 1.850 meter di atas permukaan laut. Lingkungan di daerah ini berupa hutan pegunungan lembap dengan vegetasi rapat dan suhu relatif rendah, menjadikannya habitat ideal bagi skink yang menyukai tempat teduh dan lembap di dasar hutan. Delapan individu dikoleksi dari lokasi tersebut selama survei herpetologi, yang kemudian dijadikan bahan analisis morfologi dan molekuler untuk memastikan status taksonominya.
Para peneliti menerapkan pendekatan taksonomi integratif yang mencakup tiga langkah utama:
-
Analisis Morfologi – Mengukur 15 karakter tubuh seperti panjang moncong hingga kloaka (SVL), jarak antar tungkai, dan jumlah sisik di tubuh serta anggota gerak.
-
Analisis Molekuler – Menggunakan tiga gen mitokondria (12S rRNA, 16S rRNA, dan COI) yang diamplifikasi melalui PCR untuk mengetahui kekerabatan genetik dengan spesies lain.
-
Analisis Statistik Morfometrik – Menggunakan uji ANOVA dan PCA (Principal Component Analysis) untuk melihat perbedaan morfologi antara populasi baru dan kerabat dekatnya (S. alia dan S. qianica).
Terbukti Sebagai Spesies Baru
Hasil analisis genetik menunjukkan bahwa Scincella tenuistriata memiliki jarak genetik 8,6–8,8% dari S. alia berdasarkan gen COI, yang melebihi ambang batas 3% untuk diferensiasi spesies pada kadal. Sementara itu, perbandingan dengan spesies S. qianica menunjukkan jarak genetik sekitar 19,5%, menegaskan perbedaan yang jauh lebih besar.
Dari sisi morfologi, S. tenuistriata memiliki ukuran tubuh sedang dengan panjang tubuh jantan dewasa sekitar 40–42 mm, telinga luar besar dan cekung. Warna punggungnya keemasan dengan bintik hitam kecil, dan bagian bawah tubuh berwarna kuning cerah dengan bercak tidak beraturan, berbeda jelas dengan S. alia yang memiliki garis lurus dan warna tubuh lebih gelap.
Secara struktural, S. tenuistriata memiliki 24 baris sisik di tengah tubuh. Pola sisik ini menjadi pembeda utama dari S. alia (yang hanya memiliki 22 baris sisik tengah) dan S. qianica (yang memiliki 26 baris). Analisis PCA juga memperlihatkan bahwa populasi Guizhou membentuk kelompok morfometrik tersendiri yang tidak tumpang tindih dengan dua spesies pembanding.
Perbandingan morfologi ini memperkuat bahwa S. tenuistriata telah mengalami diferensiasi evolutif akibat isolasi geografis, kemungkinan karena topografi pegunungan di Guizhou yang membatasi pertukaran genetik antar populasi Scincella. Nama spesies “tenuistriata” diberikan merujuk pada garis-garis tipis bergelombang di punggungnya, yang menjadi ciri khas visualnya.
Penemuan Scincella tenuistriata menambah jumlah spesies Scincella yang dikenal secara global menjadi 51 spesies, sekaligus mempertegas peran wilayah Guizhou sebagai salah satu pusat keanekaragaman reptil di Tiongkok. Studi ini menjadi contoh penting bagaimana kombinasi data genetik, morfologi, dan analisis statistik dapat mengungkap keanekaragaman tersembunyi dalam kelompok hewan yang tampak seragam.
Lebih jauh, hasil ini juga menegaskan pentingnya konservasi kawasan pegunungan Guizhou, bukan hanya sebagai habitat spesies endemik, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan evolusi yang masih terus berkembang.
Sumber: