Busok Raas, Kucing Indonesia yang Mendunia

Busok Raas, Kucing Indonesia yang Mendunia

Kucing Busok Raas merupakan salah satu ras kucing domestik endemis dari Indonesia, khususnya berasal dari Pulau Raas, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Penamaan “Busok” sendiri berasal dari istilah lokal Madura yang merujuk pada warna rambutnya yang kelabu seperti ‘abu gosok’.

Unik dan Mempesona

Secara morfologis, Kucing Busok Raas memiliki struktur tubuh berukuran sedang hingga besar dengan postur kokoh dan berotot. Bentuk wajahnya segitiga dengan proporsi yang tegas, dagu meruncing namun simetris, serta rahang yang kuat. Telinganya relatif panjang, berdiri tegak, dan runcing ke arah depan, memberikan kesan waspada dan tajam. Ekor kucing ini tergolong unik, lebih pendek dari panjang tubuh ideal dengan ujung yang cenderung bengkok, menjadi salah satu ciri diagnostik utama.

Rambutnya pendek, rapat, dan bertekstur lembut, menyerupai beludru. Warna dominan adalah biru kelabu yang disebut sebagai “busok”, namun ada pula varietas berwarna hitam, cokelat (disebut “amethyst“) dan lilac. Warna mata yang umum dijumpai adalah hijau zamrud, meskipun individu berwarna cokelat seringkali memiliki mata biru safir.

Busok dan Kisah Masyarakat Madura

Keunikan Kucing Busok Raas tidak hanya terletak pada penampilan fisiknya, tetapi juga pada latar belakang budaya dan mitologi yang menyertainya. Dalam tradisi masyarakat Pulau Raas, kucing ini dianggap memiliki kekuatan spiritual atau “indra keenam” yang diyakini mampu melindungi pemilik dari bahaya. Oleh sebab itu, tidak sembarang orang diperbolehkan memeliharanya—hanya tokoh masyarakat, kyai, atau bangsawan tertentu yang memiliki akses terhadap kucing ini.

Bahkan, terdapat larangan adat yang menyatakan bahwa kucing Busok tidak boleh dibawa keluar pulau tanpa alasan yang jelas atau tanpa disterilkan, karena dipercaya dapat mendatangkan musibah. Seiring waktu, kepercayaan ini menjadikan Busok sebagai simbol status dan kehormatan di kalangan masyarakat Madura. Pada masa lampau, kucing ini kerap dijadikan hadiah atau cinderamata eksklusif dari tokoh adat kepada tamu kehormatan sebagai bentuk penghargaan tinggi.

Distribusi dan Tantangan Konservasi

Distribusi geografis kucing ini sangat terbatas. Habitat alami dan populasi murninya hanya ditemukan di Pulau Raas dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Masyarakat lokal secara turun-temurun menjaga kelestarian ras ini dengan cara tradisional, seperti seleksi kawin alami dan pembatasan distribusi ke luar daerah. Namun, beberapa individu telah berhasil dikembangbiakkan di luar pulau, antara lain di Bandung, Bogor, dan Semarang—dalam rangka upaya pelestarian berbasis ilmiah.

Populasi yang dikembangkan di luar pulau umumnya merupakan hasil rekayasa breeding generasi keempat (F4) dari indukan murni yang telah disteril. Upaya ini penting karena data tahun 2016 menunjukkan populasi Busok murni di bawah 100 ekor, menjadikannya sangat rentan terhadap kepunahan.

Upaya konservasi terhadap Kucing Busok Raas telah dilakukan melalui berbagai pendekatan, baik oleh pemerintah daerah, komunitas pecinta kucing, maupun organisasi internasional. Lembaga seperti Indonesian Busok Raas Association (IBRA) dibentuk untuk menginventarisasi populasi, mengembangkan program pelestarian, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melindungi kekayaan genetik asli bangsa. Kegiatan seperti pameran kucing, seminar ilmiah, serta sertifikasi ras menjadi bagian dari strategi pelestarian terpadu.

Namun, tantangan utama tetap pada keterbatasan populasi murni dan kurangnya pemahaman masyarakat umum terhadap nilai penting dari ras ini. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, akademisi, komunitas lokal, dan pemilik kucing menjadi krusial dalam menjamin keberlanjutan ras Busok Raas.

Sumber informasi: https://sites.google.com/view/busokloversnusantara/beranda
Penulis dan sumber foto: Hania C.