Musang Luwak (Paradoxurus hermaphroditus) atau yang biasa disebut juga sebagai musang pandan merupakan salah satu jenis dari famili Viverridae. Nama “Paradoxurus” sendiri memiliki arti “aneh” merujuk pada ekor musang, yang memiliki fungsi unik sebagai kaki kelima, yaitu untuk berpegangan ketika berjalan di atas pohon.
Ciri Khas Morfologi dan Perilaku Sosial
Musang Luwak memiliki ciri khas berupa garis hitam memanjang di punggung dan bintik hitam di sisi tubuh yang berwarna abu-abu kecoklatan. Panjangnya sekitar 90 cm, dengan wajah, kaki, dan ekor berwarna coklat gelap hingga hitam. Dahi dan sisi wajah keputih-putihan, dengan garis hitam samar dari hidung ke atas kepala.
Musang Akar bersifat arboreal dan merupakan hewan nokturnal, kebanyakan menyendiri atau soliter, tetapi dapat hidup berkelompok dengan ukuran sekitar 5-8 individu. Musang Luwak menemukan pasangan dan menandai teritori dengan tanda aroma dari kelenjar di dekat anusnya, yang aromanya menyerupai daun pandan.
Habitat dan Pola Makan
Hewan ini berasal dari daerah di dalam dan sekitar Asia, mulai dari timur hingga Filipina dan barat hingga Kashmir. Secara alami, Musang Luwak hidup di hutan subtropis dan tropis, namun mereka juga ditemukan di taman, perkebunan, dan pemukiman. Musang Luwak memilih tempat tinggal tergantung pada ketersediaan makanan dan adanya tempat persembunyian, seperti cekungan pohon, celah-celah batu, atau dedaunan lebat.
Hewan satu ini juga merupakan hewan omnivora, biasanya dapat mengonsumsi ayam dan sejumlah buah-buahan yang sudah matang, seperti pepaya, pisang, hingga buah kopi. Tidak jarang hewan ini dianggap sebagai pencuri ternak atau buah. Namun, keberadaannya juga dimanfaatkan untuk budidaya biji kopi luwak, khususnya di Indonesia.
Kopi Luwak dan Konservasi Musang Luwak
Kopi luwak memiliki cita rasa yang khas karena telah melewati proses fermentasi di dalam perut musang. Musang Luwak hanya memakan buah kopi yang matang dan manis. Daging buah dan lendir pada buah kopi akan hilang selama proses pencernaan, yang kemudian kotoran berupa biji kopi akan keluar setelah melewati proses pencernaan yang berlangsung selama 12-24 jam. Selanjutnya, biji kopi tersebut akan dikumpulkan, direndam, dicuci, dan dijemur. Biji kering tersebut yang kemudian diolah dan dikonsumsi oleh masyarakat.
Harga dari kopi luwak sendiri berkisar antara 1,4 juta-2,8 juta rupiah per pon. Harga kopi luwak yang tinggi disebabkan karena Musang Luwak hanya akan memakan buah kopi dengan kondisi terbaik dan hanya memakan sekitar 10-15 gram biji kopi. Hal tersebut yang menyebabkan produksi biji kopi luwak menjadi terbatas. Kopi luwak memiliki cita rasa unik dan kadar keasaman rendah, di dalam biji kopinya mengandung senyawa asam malat dan asam sitrat.
Saat ini, Musang Luwak masuk ke dalam status IUCN (International Union for Conservation of Nature) Least Concern (LC) atau belum menjadi perhatian. Jumlah dan persebaran Musang Luwak masih tergolong banyak dan luas, sehingga masih masuk ke dalam risiko rendah dengan kecenderungan populasi menurun. Namun demikian, adanya tindakan eksploitasi, perburuan, dan kebakaran hutan dapat mengancam populasi Musang Luwak di habitat aslinya.
Penulis: Agahari Lindi
Editor: Hania Chusni
Foto: İnci Çınaroğlu https://www.pexels.com/photo/asian-palm-civet-lying-down-on-shelf-19763157/
Referensi:
- Asmara, A. T. W. (2014). Musang Pandan. https://biodiversitywarriors.kehati.or.id/artikel/musang-pandan/.Diakses pada 28 Februari 2025.
- Rahmadi. (2023). Bagaimana Musang Luwak Menghasilkan Kopi Bercita Rasa Tinggi?. https://www.mongabay.co.id/2022/11/18/bagaimana-musang-luwak-menghasilkan-kopi-bercita-rasa-tinggi/. Diakses pada 28 Februari 2025.
- CNN Indonesia. (2022). 7 Kopi Termahal di Dunia, Ada Kopi Luwak Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20220321161617-262-774311/7-kopi-termahal-di-dunia-ada-kopi-luwak-indonesia. Diakses pada 28 Februari 2025.
- Kampung Satwa. (2022). Paradoxurus Hermaphroditus. https://kampungsatwa.com/satwa/paradoxurus-hermaphroditus/#:~:text=Berdasarkan%20International%20Union%20for%20Conservation,rendah%20dengan%20kecenderungan%20populasi%20menurun. Diakses pada 28 Februari 2025.
- Mahardika, A., & Jadi, A. R. (2022). Studi Anatomi Kulit Musang Luwak (Paradoxurus hermaphroditus) dengan Pewarnaan Alcian Blue dan Periodic Acid Schiff. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada.